Feeds:
Pos
Komentar

Beberapa tokoh aliran belajar humanistik antara lain adalah Arthur Combs, Abraham H. Maslow, dan Carl R. Rogers. berikut akan saya uraikan sedikit mengenai ketiga tokoh tersebut.

1. Arthur Combs

Untuk mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti bagaimana dunia ini dilihat dari sudut pandangnya. Pernyataan ini adalah salah satu dari pandangan humanistik mengenai perasaan, persepsi, kepercayaan, dan tujuan tingkah laku inner (dari dalam) yang membuat orang berbeda dengan orang lain. untuk mengerti orang lain, yang terpentng adalah melihat dunia sebagai yang dia lihat, dan untuk menentukan bagaimana orang berpikir, merasa tentang dia atau dunianya. (Djiwandono, 2002: 182)

2. Abraham H. Maslow

Teori Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:

    1. Suatu usaha yang positif untuk berkembang.
    2. Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.

    Maslow berpendapat bahwa ada hierarki kebutuhan manusia. Kebutuhan dari tingkat yang lebih rendah yaitu tingkat untuk bisa survive atau mempertahankan hidup dan rasa aman, dan ini adalah kebutuhan yang paling penting. Tetapi jika secara fisik manusia secara fisik terpenuhi kebutuhannya dan merasa aman, mereka akan distimuli untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dicintai dan kebutuhan akan harga diri dalam kelompok mereka sendiri. Jika kebutuhan ini telah terpenuhi orang akan kembali mencari kebutuhan yang lebih tinggi lagi, prestasi intelektual, penghargaan estetis, dan akhirnya self-actualization.

    3. Carl. Rogers

    Rogers menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar lebih manusiawi, lebih personal dan berarti.

    Lebih khusus dalam bidang pendidikan, Rogers mengutarakan pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik yang diidentifikasikan sebagai sentral dari filsafat pendidikannya, yakni:

    • Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
    • Belajar yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
    • Belajar yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
    • Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
    • Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
    • Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya.
      Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
    • Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
    • Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
    • Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.

    Teori Belajar Humanistik

    Dalam teori pembelajaran humanistik, belajar merupakan proses yang dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia, yakni untuk mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal. Salah satu ide penting dalam teori belajar humanistik adalah siswa harus mempunyai kemampuan untuk mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar (self regulated learning), apa yang akan dipelajari dan sampai tingkatan mana, kapan dan bagaimana mereka akan belajar. Siswa belajar mengarahkan sekaligus memotivasi diri sendiri dalam belajar daripada sekedar menjadi penerima pasif dalam proses belajar. Siswa juga belajar menilai kegunaan belajar itu bagi dirinya sendiri.

    Aliran humanistik memandang belajar sebagai sebuah proses yang terjadi dalam individu yang melibatkan seluruh bagian atau domain yang ada yang meliputi domain kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan kata lain, pendekatan humanistik menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki oleh setiap siswa. Untuk itu, metode pembelajaran humanistik mengarah pada upaya untuk mengasah nilai-nilai kemanusiaan siswa. Guru, oleh karenanya, disarankan untuk menekankan nilai-nilai kerjasama, saling membantu, dan menguntungkan, kejujuran dan kreativitas untuk diaplikasikan dalam proses pembelajaran.

    Ahli-ahli teori humanistik menunjukkan bahwa (1) tingkah laku individu pada mulanya ditentukan oleh bagaimana mereka merasakan dirinya sendiri dalam dunia sekitarnya, dan (2) individu bukanlah satu-satunya hasil dari lingkungan mereka seperti yang dikatakan oleh ahli teori tingkah laku, melainkan langsung dari dalam (internal), bebas memilih, dimotivasi oleh keinginan untuk aktualisasi diri atau memenuhi potensi keunikan mereka sebagai manusia.

    Dari perspektif humanistik, pendidik seharusnya memerhatikan pendidikan lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang (affective) siswa. Kebutuhan afektif adalah kebutuhan yang berhubungan dengan emosi, perasaan, nilai, sikap, predisposisi, dan moral. Kebutuhan-kebutuhan ini diuraikan oleh Combssebagai tujuan pendidikan humanistik, yaitu:

    1. Menerima kebutuhan-kebutuhan dan tujuan siswa serta menciptakan pengalaman dan program untuk perkembangan potensi siswa.
    2. Memudahkan aktualisasi diri siswa dan perasaan diri mampu
    3. Memperkuat perolehan keterampilan dasar (akademik, pribadi, antarpribadi, komunikasi, dan ekonomi)
    4. Memutuskan pendidikan secara pribadi dan penerapannya
    5. Mengenal pentingnya perasaan manusia, nilai dan persepsi dalam proses pendidikan
    6. Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti, mendukung, menyenangkan, serta bebas dari ancaman
    7. Mengambangkan siswa masalah ketulusan, respek dan menghargai orang lain, dan terampil dalam menyelesaikan konflik. (Djiwandono, 2002: 181-182)

    Perpektif humanistik terutama tertarik untuk melihat bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh tujuan-tujuan subyektif mereka sendiri, serta bagaimana mereka menginterpretasikan pengalaman-pengalaman pribadi mereka. (Nursalim, 2007: 83)

    Perspektif humanistik berbeda dari perspektif behavioristik dengan cara yang bertolak belakang, yaitu bagaimana keduanya memandang keberadaan individu dalam membuat pilihan-pilihan dalam hidupnya. Behavioristik memandang manusia sebagai makhluk reaktif yang semata-mata memberi respon terhadap lingkungan. Perilakunya dapat diprediksi dan dikontrol, dengan menerapkan hukum umum perilaku yang diperoleh melalui eksperimen dengan mengamati perilaku hewan. Sedangkan pandangan humanistik berpandangan sebaliknya. Bahwa manusia pada dasarnya memiliki kekuatan untuk membuat pilihan-pilihan mereka sendiri. Manusia dipandang unik, bahwa setiap pengalaman atau fenomena memiliki makna yang berbeda-beda bagi tiap individu bergantung pada bagaimana mereka memberi makna pada peristiwa tersebut. (Nursalim, 2007: 83-84)

    Motivasi Belajar Siswa

    Prestasi belajar siswa adalah hasil dari berbagai upaya dan daya yang tercemin dari partisipasi belajar yang dilakukan siswa dalam mempelajari materi yang diajarkan oleh guru. Kuat dan lemahnya paritisipasi belajra yang dilakukan oleh siswa dalam belajar bergantung pada seberapa kuat motivasinya dalam belajar. Semakin kuat motivasi tersebut semakin kuat pula upaya dan daya yang dikerahkannya untuk berpartisipasi dalam belajar. Sebaliknya, lemahnya motivasi akan melemakhan upaya dan dayanya untuk belajar.

    Ada dua jenis motivasi dilihat dari sumber datangnya motivasi tersebut, yakni motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik.

    1.      Motivasi intriinsik

    Motivasi intrinsik adlaah motivasi untuk belajar yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Motivasi intrinsik ini diantaranya ditimbulkan oleh faktor-faktor yang muncul dari pribadi siswa itu sendiri terutama kesadaran akan manfaat materi pelajaran bagi siswa tu sendiri. Manfaat tersebut bisa berupa:

    a.       Keterpakaian kompetensi dalam bidang yang sedang dipelajari dalam pekerjaan atau kehidupannya kelak.

    b.      Keterpakaian pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran dalam memperluas wawasannya sehingga memberikan kemampuan dalam mempelajari materi lain.

    c.       Diperolehnya rasa puas karena keberhasilan mengetahui tentang sesuatu yanga selama ini menjadi obsesi atau dambaannya.

    d.      Diperolehnya kebanggaan karena adanya pengakuan oleh lingkungan sosial teradap kompetensi prestasinya dalam belajar.

    Sifat-sifat motivasi intrinsik antara lain:

    a.       Walaupun motivasi intrinsik sangat diharapkan, namun justru tidak selalu timbul dalam diri siswa.

    b.      Karena munculnya atas kesadaran sendiri, maka motivasi intrinsik akan bertahan lebih lama jika dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik. (Gintings, 2008: 89)

    2.      Motivasi ekstrinsik

    Motivasi ekstrinsik adalah motivasi untuk belajar yang berasal dari luar diri siswa. Motivasi ini ditimbulkan oleh faktor-faktor yang muncul dari luar pribadi siswa itu sendiri, termasuk dari guru. Faktor-faktor tersebut bisa positif dan bisa pula negatif.

    Contoh dari motivasi ekstrinsik yang negatif adalah rasa takut siswa akan hukuman yang akan diberikan oleh guru mendorong siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Contoh motivasi siswa yang positif adalah dorongan siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena ingin mendapatkan pujian dari guru.

    Sifat-sifat motivasi ekstrinsik antara lain:

    a.       Karena munculnya bukan atas kesadaran sendiri, maka motivasi ekstrinsik mudah hilang atau tidak dapat bertahan lama.

    Motivasi ekstrinsik jika diberikan secara terus menerus akan menimbulkan motivasi intrinsik dalam diri siswa. (Gintings, 2008: 88-89)

     

    Sumber: Gintings, Abdorrakhman. 2008. Esensi Praktis Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Humaniora

    Daya Simak sang Tuna Netra

    Bersyukurlah bagi kita yang sejak lahir hingga ketika membaca tulisan saya ini masih diberikan kesempurnaan indra oleh Yang Maha Kuasa. Rasa syukur itu begitu saya rasakan sepulang saya dari observasi mengenai daya simak anak tuna netra di salah satu SLB di Surabaya.

    Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan untuk kondisi seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan dalam indra penglihatannya. Berdasarkan tingkat gangguannya/kecacatannya Tunanetra dibagi dua yaitu buta total (total blind) dan yang masih mempunyai sisa penglihatan (Low Visioan).

    Dalam kegiatan pembelajaran, siswa tuna netra selalu tak pernah lepas dari yang namanya braille. buku2 yang mereka gunakan ialah buku dengan huruf2 braille. mereka menggunakan ujung2 jarinya untuk membaca dengan cara jari kanan untuk meraba dan membaca tiap2 kata, dan jari tangan kiri untuk membantu menentukan baris dari tulisan yang ia baca.

    Akibat hilang/berkurangnya fungsi indra penglihatannya maka tunanetra berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra yang lainnya seperti, perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain sebaginya sehingga tidak sedikit penyandang tuna netra yang memiliki kemampuan luar biasa misalnya di bidang musik atau ilmu pengetahuan.

    Daya simak mereka ketika proses belajar mengajar bisa dibilang rendah. mengapa saya mengatakan demikian?

    Mudah Lupa. kebanyakan dari tuna netra memiliki kecenderungan mudah lupa dalam mengingat pelajaran. hal ini bisa saya maklumi. keterbatasan mereka dalam menangkap maksud dari penjelasan guru disebabkan kurangnya memori dalam otak mereka tentang bentuk bentuk benda tertentu. saya contohkan disini, ketika si A menerima pelajaran IPA tentang benda mencair, si A akan mengalami kesulitan mengingat ingat apa contoh dari peristiwa mencair tersebut. itu disebabkan karena si A nyaris tidak pernah melihat secara langsung bagaimana dan apa benda yang mencair tersebut. jika sudah sukar membayangkan, bagaimana seseorang bisa dengan mudah mengingatnya?

    Oleh karena itu hingga saat ini saya sangat bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan pada saya…

    Ternyata Upil Bisa Dimakan???

    siapa sih yang gak tau menahu tentang “upil”? makhluk yang satu ini sudah mendarah daging dengan tubuh kita. tapi ada yang tahu tidak kalau ternyata upil itu ada manfaatnya tersendiri jika kita mengkonsumsinya [kalau mau tentunya] ^_^

    Upil adalah sebuah kotoran yang terbentuk secara alami dari proses debu debu jalanan yang nyasar kedalam lubang hidung kita,dan setelah masuk lalu dia ditahan oleh bulu bulu halus yang terdapat di dalam lubang hidung kita,dan kemudian disaring dalam sebuah proses yang alami oleh tubuh kita yang mempunyai suhu panas yang dapat menetralisir segala kemungkinan kuman yang masuk lewat debu debu jalanan tadi,dan melalui proses yang singkat lalu debu debu itu mengering dan terbentuklah gumpalan gumpalan kecil hasil dari proses penyaringan segala kotoran yang mengendap di lubang hidung kita.

    Bila kotoran di lubang hidung anda telah menumpuk biasanya dia akan menyembul dengan sendirinya. Maka segeralah anda bersihkan dengan cara mengoreknya.itulah yang dinamakan aktivitas “ngupil”

    Dokter spesialis paru-paru asal Austria, Prof Dr Friederich Bischinger, pernah menyarankan orang untuk makan upil (kotoran hidungnya) sendiri karena diklaim bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

    Penemuan Prof Bischinger tahun 2004 itu sempat menjadi kontroversial. Banyak orang awam dan paramedis yang menolak mentah-mentah teori Prof Bischinger dan mengatakan teori itu tidak masuk akal.

    Makan upil kering adalah cara yang bagus untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh. Secara medis itu masuk akal dan hal yang wajar untuk dilakukan. Dalam sistem kekebalan, hidung adalah filter yang menyaring banyak bakteri menjadi satu dan ketika campuran ini tiba di usus akan bekerja seperti obat.

    Obat moderen selalu berusaha untuk melakukan hal yang sama dengan metode yang jauh lebih rumit, orang-orang yang mengupil dan memakannya secara alami mendorong sistem kekebalan tubuh mereka secara cuma-cuma.

    Hasil ini memang cukup mencengangkan, karena selama ini orang menganggap kalau upil adalah suatu kotoran yang harus dibuang dan bukan untuk dikonsumsi. Tapi bagi Prof Bischinger, upil juga bisa bertindak sebagai vitamin yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh seseorang.
    ——————————————————————————————————————————————————————
    sumber:
    https://upex.wordpress.com/2010/06/12/meningkatkan-sistem-kekebalan-tubuh/
    http://hiburan.kompasiana.com/group/humor/2010/07/25/asal-usul-upil/

    CERITA UNTUK DIA

    Siapa yang tak tahu, aku dan dia saling mencintai. Siapa yang tidak mengerti, aku dan dia tak pernah lepas satu dan lainnya. Semua orang tahu aku menjalin sebuah hubungan serius dengannya. Dan aku memang mencintainya, seperti aku mencintai hidupku. Aku selalu merindukannya.

    Perpisahan membuatku dan dia berpisah. Jarak yang jauh membuat aku dan dia tak pernah saling berkomunikasi. Tak pernah saling tahu, sedang apa kami di tempat kami. Meski demikian, semua orang menganggap kami saling mencintai, saling menyayangi.

    Aku selalu merindukannya. Bahkan ketika sebuah berita mampir di telingaku, tak pernah kurisaukan itu. Aku hanya berharap, ia baik-baik saja di sana. Dia akan selalu mengingatku, apa pun yang terjadi. Meski jika memang benar ia telah menjalin hubungan dengan wanita di tempatnya. Air mataku telah kering, tak sanggup membayangkan, bagaimana mungkin ia bisa menjalin hubungan dengan wanita di sana. Ia milikku,, hanya itu yang aku tahu. Dan hanya itu yang aku mau tahu..

    Aku tetap tak pernah berkomunikasi dengannya. Hanya sekali dalam setahun aku bisa bertemu dengannya. Dan hari ini, aku bertemu dengannya. Dia begitu menyenangkan, sama seperti ketika aku dan ia masih bersama dahulu. Dan sikapnya hari ini meruntuhkan anganku bahwa ia telah menjalin hubungan dengan wanita lain.

    Aku tak mengajukan pertanyaan apa pun padanya. Tentang wanita itu, atau tentang wanita mana pun. Aku tak punya hak untuk itu. Aku bukan apa-apa. Kata cinta memang tak pernah saling kami utarakan. Dia berhak lakukan apa pun. Namun hari ini, aku merasa memilikinya kembali, meski tanpa perjanjian. Biarkan dia menjadi milikku, hari ini. Meski hanya hari ini.

    Hari ini dia memelukku dengan hangat, hari ini dia mencium bibirku dengan mesrah. Hari ini dia mengusap kepalaku dengan lembut. aku seperti berada di awang-awang. Senyumnya begitu manis, hari ini aku memiliki senyuman itu. dia berulang kali mencium bibirku, menyunggingkan senyum manis padaku. Hingga hari ini berakhir, aku masih juga merasakan bibir hangatnya menyentuh bibirku.

    Sejak hari itu, dia menjadi begitu hangat padaku. Dia seringkali mengajakku keluar untuk menikmati hari bersama. Hingga malam ini, kami menginap di sebuah stasiun kereta api di kota kami. Jangan salah sangka, kami tak melakukan hal itu. kami hanya menghabiskan malam saja di stasiun. Kami juga tidak berdua saja, ada teman-teman kami yang ikut menghabiskan malam di stasiun. Aku tak pernah lepas dari pelukannya. Sesekali dia bertanya padaku, “kau capek?” namun aku hanya menjawab dengan gelengan kepala. Mana mungkin aku bisa merasakan capek, aku takkan merasakan itu jika ada di sampingmu!

    Jika teman-teman kami sedang lengah, kami sempatkan berciuman dengan mesrah. Kami selalu mencuri-curi kesempatan jika teman-teman kami sedang lengah. Hingga saat mereka tengah lelap, kami berciuman panjang yang hangat, menghangatkan tubuh kami yang dingin diterpa angin malam di stasiun kota.

    Hari itu sungguh menjadi hari yang paling mengesankan dalam hidupku. Juga hari ini, ketika aku pergi bersamanya ke bioskop di kota kecil kami. Pelukannya tetap hangat. Sesekali dia juga menciumku, mencuri-curi kesempatan saat teman-teman lengah. Ya, lagi-lagi kami tak berdua saja. Dan kami memang hanya sekali berdua saja, ketika pertama kali kami bertemu setelah sekian lama berpisah. Saat itu pula ciuman pertamanya mendarat di bibirku.

    Hari ini aku begitu terkejut dengan pernyataannya yang tiba-tiba. Dia berbisik di telingaku, “kamu masih punya kesempatan jika ingin bersamaku”. Aku hanya menganggukkan kepala pelan, lalu dia menambahkan, “jika kamu tinggalkan semua yang buruk pada dirimu”. Aku hanya diam, lalu ia menambahkan, “aku berjanji. Bagaimana?” aku pun mengangguk dengan mantap. Lalu ia kembali mencium bibirku.

    Beberapa hari kemudian aku masih bertemu dengannya. Hingga suatu ketika, ia menemuiku lagi. Namun saat itu, aku sedang bersama kekasihku. Ketika kekasihku berpamitan, ia pun menemuiku. Ia tak mengatahkan sepatah katapun. Ia hanya menyerahkan kaos hitam yang aku minta tempo hari. “ini untukmu, ambil saja…” lalu ia menambahkan, “siapa itu tadi? Itu kah pacarmu?” aku hanya mengangguk.

    Tak kusangka, hari itu adalah hari terakhir aku dengannya. Ia tak lagi menampakkan diri. Berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, aku tak lagi bisa menemuinya.Sudah kucoba melupakan semuanya, tapi aku tak mampu. Separuh hatiku masih miliknya, entah hingga kapan lagi.

    Setulusnya aku akan terus menunggu
    Menanti sebuah jawaban
    Memilikimu…
    (Padi)

    Selesai _

    Aku Manusia

    Kucing mengeong

    Anjing menggonggong

    Kambing mengembik

    Ayam berkokok

    Dan aku diam….

    Karena aku bukan mereka